Postingan

Selamat Idul Fitri Tanpa Kamu, Lagi

 Di antara riuh rumah yang tak pernah benar-benar sepi, ada satu sudut yang sejak tahun 2020 tak lagi sama tempat di mana dulu aku menitipkan keluh kesah, tanpa takut dihakimi, tanpa ragu untuk dimengerti. Untuk kamu, yang dahulu menjadi pelabuhan paling tenang. Tuhan telah memanggilmu pulang, dan waktu terus berjalan seperti biasa orang-orang bilang, luka akan sembuh seiring berlalunya hari. Tapi maaf, jika aku masih tersesat di antara kata ikhlas yang terasa begitu asing. Ternyata, merelakan bukan sekadar melepaskan, melainkan belajar hidup dengan kekosongan yang tak pernah kita pilih. Dulu, masalahku hanya setetes kecil, sederhana, dan selalu menemukan muara padamu. Kini, ia menjelma menjadi lautan. Menggunung, mengendap, menunggu sembuh dengan caranya sendiri. Namun aku bingung… kepada siapa lagi harus kuceritakan semuanya, jika tempatku pulang telah lebih dulu pergi? Rumah ini masih ramai, suara tawa masih sesekali terdengar, langkah kaki tetap bersahutan. Tapi entah kenapa, s...

Catatan dari Negeri yang Dipaksa Bahagia

Barangkali marah sudah tak lagi memadai untuk menampung riuh negeri ini. Sebab para elit telah lama berbicara tanpa berpikir, bertindak tanpa nurani, dan memutuskan tanpa pernah menoleh ke bawah.  Seekor gajah ditemukan mati, kepalanya hilang. Bukan karena alam kejam, melainkan karena perut serakah yang menganggap gading lebih berharga dari nyawa. Harimau turun ke pemukiman, bukan sebagai ancaman, melainkan sebagai pengungsi. Rumahnya telah habis dilumat manusia yang menyebut diri beradab. Seorang anak sepuluh tahun memilih menggantung harapannya sendiri. Ia meninggalkan sepenggal kata “selamat tinggal”. Bukan karena ia tak mencintai hidup, melainkan karena terlalu mencintai ibunya, yang setiap hari harus meminta maaf karena tak mampu bahkan untuk membeli pena dan buku. Di negeri ini pendidikan menjelma kemewahan, bukan lagi hak yang dimiliki setiap anak bangsa. Ada sistem yang menutup mata, tak lagi membiayai visum bagi korban kekerasan dan pelecehan. Seolah kebenaran bisa dihapus...

Kota yang Tak Pernah Kuinginkan, Namun Kupanggil Rumah

Kota ini tak pernah ada dalam daftar mimpiku. Bahkan jika aku jujur pada diriku sendiri, ia sempat masuk ke daftar hitam ,tempat yang kuhindari dalam bayangan masa depan. Aku datang tanpa ekspektasi, tanpa rasa ingin menetap. Hanya sekadar singgah, pikirku waktu itu. Namun takdir, yang selalu pandai mengatur pertemuan tanpa izin, justru menahanku lebih lama dari rencana. Semakin lama aku tinggal, semakin sering perasaan pulang itu datang. Pelan, nyaris tak terasa. Seperti seseorang yang awalnya asing, lalu tanpa sadar mulai kau ceritakan hal-hal kecil tentang harimu. Terlalu dini memang ketika di tahun ketiga aku mulai berani menyebut kota ini sebagai rumah kedua. Tapi perasaan tidak pernah menunggu waktu yang dianggap tepat. Ia tumbuh diam-diam, menguat tanpa permisi. Di kota ini aku belajar menjadi manusia, dalam arti yang paling sederhana dan paling rumit sekaligus. Aku belajar hidup berdampingan dengan berbagai jenis manusia: yang hangat, yang dingin, yang datang dengan niat baik, ...

Di Persinggahan Terakhir 2025: Tentang Tumbuh, Bertahan, dan Berani Melangkah

  Tanpa tanda peringatan, tanpa hitungan mundur yang benar-benar kita sadari, ternyata kita sudah berada di persinggahan terakhir tahun 2025. Waktu bekerja dengan caranya sendiri yang diam-diam berjalan, lalu tiba-tiba berhenti sejenak, seolah memberi kesempatan bagi kita untuk menoleh ke belakang. Di titik ini, aku belajar bahwa akhir tahun bukan hanya tentang pergantian angka, melainkan tentang keberanian untuk jujur pada diri sendiri: tentang apa saja yang telah kita lewati, dan apa yang diam-diam mengubah kita. Tahun 2025 adalah tahun yang penuh rasa. Ada hari-hari yang diisi tawa ringan tanpa alasan yang jelas, ada pula malam-malam panjang yang terasa sunyi meski dikelilingi banyak orang. Senang, sedih, kecewa, dan lelah hadir silih berganti, mengajarkanku bahwa hidup tidak pernah berjalan lurus. Ia berbelok, tersendat, bahkan kadang memaksa kita berhenti di tengah jalan hanya untuk memahami satu hal penting: bahwa semua rasa layak dirasakan. Aku berterima kasih pada 2025 kare...

Ketika Cerah Tak Lagi Punya Nama

Tanah yang sejak kecil kupijak kini mulai memperlihatkan amarahnya. Air yang dulu setia menghilangkan dahagaku kini seakan ingin meneguk diriku kembali. Bahkan pohon-pohon yang pernah kupanjat untuk menatap negeri dari ketinggian ikut datang bersama tanah dan air, seolah menghadirkan kembali sesuatu yang selama ini kuanggap telah terkubur. Dan di tengah gelombang ingatan itu, aku mulai bertanya: masa depan seperti apa yang selalu mereka sebut cerah? Sebab ketika melihat ke belakang, aku ingat bagaimana segalanya pernah begitu sederhana. Dulu, aku mengeruk tanah hanya untuk membangun benteng rumah-rumahan, menyalakan imajinasi di atas segumpal debu. Air kubuang sembarangan sebagai peluru pistol mainan atau kuminum tanpa pernah memahami nilainya. Pohon-pohon kupanjat demi daun, buah, atau sekadar rasa bangga, bahkan ketika ranting-ranting kecilnya patah oleh tanganku. Jika diukur dari masa itu, bukankah yang kuambil hanyalah segenggam tangan kecil? Namun kini amarah alam seolah membebank...

Cerpen- Dibawah Lampu Jalan Yang Sama

Gambar
Hujan baru saja berhenti, memberikan waktu pada setiap insan yang ingin beraktifitas. Sisa gerimis menetes dari dedaunan, memantul di aspal yang telah basah, menyapa setiap makhluk yang sedari tadi menunggunya reda. Dibawah lampu jalan yang kuning redup, Lentera menghentikan langkahnya. Ia menatap genangan air yang memantulkan cahaya lembut, cahaya yang dulunya menjadi bingkai sebuah cerita dalam diam. Mereka tidak pernah memiliki hubungan khusus, mereka hanya dua orang yang saling menemukan kenyamanan di tengah kesibukan sehari-hari. Obrolan ringan tentang hujan, kopi, atau lagu favorit, kini berubah menjadi rutinitas yang tak pernah ada di daftar rencana mereka. Sesuatu tumbuh, tapi mereka tak lagi berani menamai.  Sampai malam itu datang, malam yang mengubah sekala cerita cinta. beberapa minggu sebelumnya, Lentera menunggu di halte kecil yang letaknya di pinggir jalan. Kemudian ia mendengar langkah kaki yang sedikit berlari ke arahnya, ia Raka. Raka datang dengan rambut setenga...

Ketika di Setiap Tahunnya, Jin Dasim Menemukan Rumah Baru

Gambar
Setiap tahun, selalu ada rumah yang berubah menjadi medan perang kecil. Suara-suara yang dulunya hangat, kini menjadi bara api yang mampu menghanguskan rasa nyaman dalam rumah. Jin Dasim, katanya tersenyum menemukan rumah barunya lagi. Tapi mungkin, bukan dia yang mencari sebuah “rumah”. Mungkin, kita sendirilah yang memanggilnya datang, membukakan pintu rumah dan mempersilahkan masuk. Lewat amarah yang tak pernah diredakan, lewat gengsi yang terus di junjung tinggi, lewat kebohongan kecil, lewat doa yang perlahan hilang dari meja makan. Semakin lama, rumah mulai sunyi. Ruang tamu yang dulunya penuh tawa, kini hanya tersisa gema langkah yang saling menjauh. Dinding yang dulu menjadi saksi doa bersama, kini mendengar desah amarah yang tak lagi bisa disembunyikan. Piring-piring di meja makan seolah tau, kehangatan yang dulu tersaji kini hanya menjadi kenangan yang dingin. Dan setiap suara pintu yang tertutup terasa seperti perpisahan kecil yang berulang setiap harinya. Barangkali disanal...