Postingan

Menampilkan postingan dari Desember, 2025

Di Persinggahan Terakhir 2025: Tentang Tumbuh, Bertahan, dan Berani Melangkah

  Tanpa tanda peringatan, tanpa hitungan mundur yang benar-benar kita sadari, ternyata kita sudah berada di persinggahan terakhir tahun 2025. Waktu bekerja dengan caranya sendiri yang diam-diam berjalan, lalu tiba-tiba berhenti sejenak, seolah memberi kesempatan bagi kita untuk menoleh ke belakang. Di titik ini, aku belajar bahwa akhir tahun bukan hanya tentang pergantian angka, melainkan tentang keberanian untuk jujur pada diri sendiri: tentang apa saja yang telah kita lewati, dan apa yang diam-diam mengubah kita. Tahun 2025 adalah tahun yang penuh rasa. Ada hari-hari yang diisi tawa ringan tanpa alasan yang jelas, ada pula malam-malam panjang yang terasa sunyi meski dikelilingi banyak orang. Senang, sedih, kecewa, dan lelah hadir silih berganti, mengajarkanku bahwa hidup tidak pernah berjalan lurus. Ia berbelok, tersendat, bahkan kadang memaksa kita berhenti di tengah jalan hanya untuk memahami satu hal penting: bahwa semua rasa layak dirasakan. Aku berterima kasih pada 2025 kare...

Ketika Cerah Tak Lagi Punya Nama

Tanah yang sejak kecil kupijak kini mulai memperlihatkan amarahnya. Air yang dulu setia menghilangkan dahagaku kini seakan ingin meneguk diriku kembali. Bahkan pohon-pohon yang pernah kupanjat untuk menatap negeri dari ketinggian ikut datang bersama tanah dan air, seolah menghadirkan kembali sesuatu yang selama ini kuanggap telah terkubur. Dan di tengah gelombang ingatan itu, aku mulai bertanya: masa depan seperti apa yang selalu mereka sebut cerah? Sebab ketika melihat ke belakang, aku ingat bagaimana segalanya pernah begitu sederhana. Dulu, aku mengeruk tanah hanya untuk membangun benteng rumah-rumahan, menyalakan imajinasi di atas segumpal debu. Air kubuang sembarangan sebagai peluru pistol mainan atau kuminum tanpa pernah memahami nilainya. Pohon-pohon kupanjat demi daun, buah, atau sekadar rasa bangga, bahkan ketika ranting-ranting kecilnya patah oleh tanganku. Jika diukur dari masa itu, bukankah yang kuambil hanyalah segenggam tangan kecil? Namun kini amarah alam seolah membebank...