Kota yang Tak Pernah Kuinginkan, Namun Kupanggil Rumah

Kota ini tak pernah ada dalam daftar mimpiku. Bahkan jika aku jujur pada diriku sendiri, ia sempat masuk ke daftar hitam ,tempat yang kuhindari dalam bayangan masa depan. Aku datang tanpa ekspektasi, tanpa rasa ingin menetap. Hanya sekadar singgah, pikirku waktu itu. Namun takdir, yang selalu pandai mengatur pertemuan tanpa izin, justru menahanku lebih lama dari rencana.

Semakin lama aku tinggal, semakin sering perasaan pulang itu datang. Pelan, nyaris tak terasa. Seperti seseorang yang awalnya asing, lalu tanpa sadar mulai kau ceritakan hal-hal kecil tentang harimu. Terlalu dini memang ketika di tahun ketiga aku mulai berani menyebut kota ini sebagai rumah kedua. Tapi perasaan tidak pernah menunggu waktu yang dianggap tepat. Ia tumbuh diam-diam, menguat tanpa permisi.

Di kota ini aku belajar menjadi manusia, dalam arti yang paling sederhana dan paling rumit sekaligus. Aku belajar hidup berdampingan dengan berbagai jenis manusia: yang hangat, yang dingin, yang datang dengan niat baik, juga yang tanpa sadar meninggalkan luka. Anehnya, aku tak pernah benar-benar membenci mereka. Jika pun ada sakit hati yang tersisa akibat sikap dan perilaku, kuanggap itu sebagai bumbu kehidupan. Pahitnya perlu, agar aku tahu bahwa aku benar-benar hidup dan merasa.

Ada fase di mana aku lebih banyak bersembunyi. Mengurung diri di kamar yang menjadi saksi segala hal: tawa yang pecah tiba-tiba, tangis yang jatuh tanpa suara, percakapan panjang dengan diri sendiri di tengah malam. Kamar itu bukan sekadar ruang, melainkan tempat berkumpulnya cerita yang bahagia maupun yang menyakitkan. Dan kini, untuk pertama kalinya, aku membuka gerbangnya dengan perasaan yang tak sepenuhnya siap. Aku melangkah keluar, membawa kenangan yang tak bisa kukemas rapi.

Yang membuat perpisahan ini terasa berat bukan karena aku harus pergi sepenuhnya. Namun justru karena perubahannya bukan hanya tentang keberadaan, melainkan kebiasaan. Tidak lagi saling bertukar cerita setiap hari. Tidak lagi hadir tanpa rencana. Tidak lagi menjadi bagian dari rutinitas yang dulu terasa biasa, tapi kini terasa istimewa.

Waktu adalah hal paling kejam dalam kisah ini. Ia berputar terlalu cepat, seakan tak memberi ruang bagi rasa ikhlas untuk berjalan bersamanya. Aku paham, manusia memang memiliki fase: datang, menetap, lalu beranjak. Namun di titik ini, aku ingin bertanya "tak bisakah waktu melambat sedikit saja?" Memberi jeda agar hati bisa menyesuaikan diri dengan perubahan yang datang bertubi-tubi.

Ada banyak salah yang pernah kutorehkan, terutama pada mereka yang senantiasa baik. Pada mereka yang tetap tinggal meski aku sering menarik diri. Pada mereka yang sabar menunggu hingga aku akhirnya belajar membuka diri dan merasa nyaman. Maka tulisan ini adalah permintaan maaf yang mungkin datang terlambat, sekaligus ucapan terima kasih yang tulus.

Ini bukan perpisahan yang sepenuhnya mengucapkan selamat tinggal. Ini hanya tentang jarak yang bertambah, tentang frekuensi yang berkurang, tentang rindu yang harus belajar menunggu. 

Dan jika kelak aku benar-benar meninggalkan kota ini, semoga ia mengingatku sebagai seseorang yang pernah belajar pulang, meski tak pernah merencanakannya, dan pernah belajar melepaskan, meski belum sepenuhnya siap.


Tulisandea

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Belajar Menerima Hari Yang Tak Selalu Sesuai Dengan Ekspektasi

Ketika Cerah Tak Lagi Punya Nama

Ketika di Setiap Tahunnya, Jin Dasim Menemukan Rumah Baru