Ketika Cerah Tak Lagi Punya Nama

Tanah yang sejak kecil kupijak kini mulai memperlihatkan amarahnya.

Air yang dulu setia menghilangkan dahagaku kini seakan ingin meneguk diriku kembali.

Bahkan pohon-pohon yang pernah kupanjat untuk menatap negeri dari ketinggian ikut datang bersama tanah dan air, seolah menghadirkan kembali sesuatu yang selama ini kuanggap telah terkubur.

Dan di tengah gelombang ingatan itu, aku mulai bertanya:

masa depan seperti apa yang selalu mereka sebut cerah?

Sebab ketika melihat ke belakang, aku ingat bagaimana segalanya pernah begitu sederhana.

Dulu, aku mengeruk tanah hanya untuk membangun benteng rumah-rumahan, menyalakan imajinasi di atas segumpal debu.

Air kubuang sembarangan sebagai peluru pistol mainan atau kuminum tanpa pernah memahami nilainya.

Pohon-pohon kupanjat demi daun, buah, atau sekadar rasa bangga, bahkan ketika ranting-ranting kecilnya patah oleh tanganku.

Jika diukur dari masa itu, bukankah yang kuambil hanyalah segenggam tangan kecil?

Namun kini amarah alam seolah membebankan kesalahan yang jauh lebih besar, seolah aku menebang ribuan pohon dalam sehari, mengeruk ratusan hektar tanah tanpa hati.

Air pun berdiri di sisi tanah dan pohon, seperti sekutu yang menagih balas atas jejak kecil masa kanak-kanakku.

Namun semakin kupikirkan, semakin jelas bahwa murka itu bukan hanya milikku.

Penghuni atas, mereka yang sebenarnya menguras, mengekstraksi, menguasai, nyaris tak pernah benar-benar tersentuh badai besar itu.

Sistem telah lama rusak, mata alam menjadi kabur. Ia tak lagi mampu melihat siapa pelaku dan siapa yang hanya menjadi anak kecil yang dulu bermain buta tanpa tahu apa-apa.

Lalu, di tengah kekacauan itu, penghuni atas kembali berjanji tentang masa depanku.

Mereka berkata akan membuat negeriku indah dan cerah, seakan masa depan dapat dibangun dari kata-kata yang mengilap.

Tapi apakah mereka lupa? Hidup tak pernah berdiri sendiri, ia selalu berdampingan dengan alam dan hewan.

Kini alam sudah mulai menunjukkan emosinya, dan hewan-hewan perlahan pergi meninggalkan tuannya, tak lagi percaya pada dunia yang sama-sama mereka tinggali.

Maka aku kembali bertanya, dengan suara yang nyaris tenggelam dalam hiruk pikuk janji,

apakah ini masih bisa disebut masa depan cerah?


Komentar

Postingan populer dari blog ini

Belajar Menerima Hari Yang Tak Selalu Sesuai Dengan Ekspektasi

Ketika di Setiap Tahunnya, Jin Dasim Menemukan Rumah Baru