Ketika di Setiap Tahunnya, Jin Dasim Menemukan Rumah Baru

Setiap tahun, selalu ada rumah yang berubah menjadi medan perang kecil. Suara-suara yang dulunya hangat, kini menjadi bara api yang mampu menghanguskan rasa nyaman dalam rumah. Jin Dasim, katanya tersenyum menemukan rumah barunya lagi. Tapi mungkin, bukan dia yang mencari sebuah “rumah”. Mungkin, kita sendirilah yang memanggilnya datang, membukakan pintu rumah dan mempersilahkan masuk. Lewat amarah yang tak pernah diredakan, lewat gengsi yang terus di junjung tinggi, lewat kebohongan kecil, lewat doa yang perlahan hilang dari meja makan.

Semakin lama, rumah mulai sunyi. Ruang tamu yang dulunya penuh tawa, kini hanya tersisa gema langkah yang saling menjauh. Dinding yang dulu menjadi saksi doa bersama, kini mendengar desah amarah yang tak lagi bisa disembunyikan. Piring-piring di meja makan seolah tau, kehangatan yang dulu tersaji kini hanya menjadi kenangan yang dingin.

Dan setiap suara pintu yang tertutup terasa seperti perpisahan kecil yang berulang setiap harinya. Barangkali disanalah Jin Dasim berdiam, bukan dalam bentuk makhluk gaib yang berbisik di telinga, melainkan sebagai simbol dari ego dan amarah yang selalu di biarkan tumbuh dirumah sendiri. Ia datang tanpa seru, karena pintu itu sudah terbuka, oleh rasa tak didengar, oleh cinta yang menua tanpa dijaga.

Kini dunia sangat ramai dengan cerita tentang perceraian selebritas yang seolah menjadi agenda tahunan. Banyak nama-nama selebritas yang menghiasi layar gawai kita, seolah cinta mereka hanya babak dalam naskah hiburan.

Padahal, dibalik semua sorotan kamera, ada rumah yang kehilangan arah. Ada anak yang harus belajar memanggil “ayah” dan “ibu” dari dua alamat berbeda. Ada hati yang dulu penuh tawa, kini menatap sepi di ruang yang sama. 

Fenomena ini bukan sekedar tentang mereka, para figur publik, tapi juga tentang kita. Karena setiap kali kita membaca berita itu tanpa merasa heran, artinya kita mulai terbiasa dengan tontonan tentang rumah yang telah runtuh tanpa terguncang. Dan mungkin, disaat itulah jin dasim tak lagi harus bekerja keras. Manusia sendiri sudah membangun rumah-rumah bagi pertengkaran dan dinginnya perasaan.

Jin Dasim bukan bayangan di pojok kamar, melainkan bisikan halus di hati yang lelah menahan ego. Ia berpindah dari satu rumah ke rumah lain, menumpang pada kesalahpahaman yang tak kunjung diselesaikan. Ia menyelinap lewat kalimat yang tak diucapkan, lewat tatapan dingin di meja makan, lewat pesan yang sengaja diabaikan.

Rumah barunya bisa ada dimana saja, di hati yang enggan memaafkan, di pasangan yang sibuk mencari salah, atau di media sosial yang menjadikan perpecahan sebagai hiburan. Dan setiap kali cinta dikalahkan oleh gengsi, jin dasim menempati satu ruang lagi di dunia manusia.

Barangkali setiap tangis yang jatuh di tengah malam adalah doa yang lupa menemukan arah untuk pulang. Kadang yang paling menakutkan bukan perpisahan, tapi keheningan yang tumbuh di antara dua orang yang masih tinggal bersama. Setiap tahun selalu ada cinta yang gugur tanpa alasan besar, hanya karena dua hati tak lagi seirama.

Mungkin, jin dasim tak pernah benar-benar menguasai kita. Kitalah yang memberinya tempat, saat kita memilih untuk berteriak, bukan berbicara, saat kita lebih ingin menang, bukan memahami. Saat kita lupa bahwa rumah bukan tentang siapa yang benar, tapi siapa yang rela saling menguatkan.

Ketika di setiap tahunnya jin dasim menemukan rumah baru, semoga rumah itu bukan milik kita. Semoga di antara dinding-dinding yang mulai retak, kita masih mau menambalnya dengan sabar. Semoga meja makan kembali hangat oleh cerita sederhana. Dan semoga cinta, meskipun tak sempurna, tetap menjadi alasan bagi setiap rumah untuk bertahan dari badai. 

Karena rumah yang aman bukan hanya soal tembok yang kokoh, melainkan tentang hati yang saling memilih untuk tidak pergi.

Tulisandea___


Komentar

Postingan populer dari blog ini

Belajar Menerima Hari Yang Tak Selalu Sesuai Dengan Ekspektasi

Ketika Cerah Tak Lagi Punya Nama