Catatan dari Negeri yang Dipaksa Bahagia
Barangkali marah sudah tak lagi memadai untuk menampung riuh negeri ini. Sebab para elit telah lama berbicara tanpa berpikir, bertindak tanpa nurani, dan memutuskan tanpa pernah menoleh ke bawah. Seekor gajah ditemukan mati, kepalanya hilang. Bukan karena alam kejam, melainkan karena perut serakah yang menganggap gading lebih berharga dari nyawa. Harimau turun ke pemukiman, bukan sebagai ancaman, melainkan sebagai pengungsi. Rumahnya telah habis dilumat manusia yang menyebut diri beradab. Seorang anak sepuluh tahun memilih menggantung harapannya sendiri. Ia meninggalkan sepenggal kata “selamat tinggal”. Bukan karena ia tak mencintai hidup, melainkan karena terlalu mencintai ibunya, yang setiap hari harus meminta maaf karena tak mampu bahkan untuk membeli pena dan buku. Di negeri ini pendidikan menjelma kemewahan, bukan lagi hak yang dimiliki setiap anak bangsa. Ada sistem yang menutup mata, tak lagi membiayai visum bagi korban kekerasan dan pelecehan. Seolah kebenaran bisa dihapus...