Selamat Idul Fitri Tanpa Kamu, Lagi
Di antara riuh rumah yang tak pernah benar-benar sepi, ada satu sudut yang sejak tahun 2020 tak lagi sama tempat di mana dulu aku menitipkan keluh kesah, tanpa takut dihakimi, tanpa ragu untuk dimengerti. Untuk kamu, yang dahulu menjadi pelabuhan paling tenang. Tuhan telah memanggilmu pulang, dan waktu terus berjalan seperti biasa orang-orang bilang, luka akan sembuh seiring berlalunya hari. Tapi maaf, jika aku masih tersesat di antara kata ikhlas yang terasa begitu asing. Ternyata, merelakan bukan sekadar melepaskan, melainkan belajar hidup dengan kekosongan yang tak pernah kita pilih. Dulu, masalahku hanya setetes kecil, sederhana, dan selalu menemukan muara padamu. Kini, ia menjelma menjadi lautan. Menggunung, mengendap, menunggu sembuh dengan caranya sendiri. Namun aku bingung… kepada siapa lagi harus kuceritakan semuanya, jika tempatku pulang telah lebih dulu pergi? Rumah ini masih ramai, suara tawa masih sesekali terdengar, langkah kaki tetap bersahutan. Tapi entah kenapa, s...