Cerpen- Dibawah Lampu Jalan Yang Sama
Hujan baru saja berhenti, memberikan waktu pada setiap insan yang ingin beraktifitas. Sisa gerimis menetes dari dedaunan, memantul di aspal yang telah basah, menyapa setiap makhluk yang sedari tadi menunggunya reda. Dibawah lampu jalan yang kuning redup, Lentera menghentikan langkahnya. Ia menatap genangan air yang memantulkan cahaya lembut, cahaya yang dulunya menjadi bingkai sebuah cerita dalam diam. Mereka tidak pernah memiliki hubungan khusus, mereka hanya dua orang yang saling menemukan kenyamanan di tengah kesibukan sehari-hari. Obrolan ringan tentang hujan, kopi, atau lagu favorit, kini berubah menjadi rutinitas yang tak pernah ada di daftar rencana mereka. Sesuatu tumbuh, tapi mereka tak lagi berani menamai.
Sampai malam itu datang, malam yang mengubah sekala cerita cinta.
beberapa minggu sebelumnya, Lentera menunggu di halte kecil yang letaknya di pinggir jalan. Kemudian ia mendengar langkah kaki yang sedikit berlari ke arahnya, ia Raka. Raka datang dengan rambut setengah basah karena hujan. Ia tersenyum, mengulurkan minuman hangat pada Lentera.
“Buat kamu”
“Biar kamu nggak kedinginan”
Lentera menerimanya dengan senang hati, ia menatap wajah Raka dalam-dalam. Ada sesuatu disana, ada kehangatan yang pelan-pelan berubah menjadi rasa takut.
“Raka” katanya pelan
“Kita nggak bisa terus kaya gini”
Raka terdiam. “Kenapa?”
“Karena kita bukan siapa-siapa”
“Dan aku tau batasku di mana” ucap Lentera, nadanya bergetar tapi ia mengucap kalimat tersebut dengan tegas, tak ada keraguan di wajahnya.
Raka hanya menunduk. “Aku cuma…..”
“aku nggak mau semuanya berhenti begini”
Lentera tersenyum getir. “Aku juga.”
“Tapi kalau kita terus dekat, nanti salah satu dari kita harus mengorbankan prinsip yang kita pegang”
Hujan turun lagi malam itu, seakan alam ingin menyamarkan perdebatan itu agar tak ada yang mendengar percakapan tersebut.
Tak ada kata perpisahan, hanya langkah yang menjauh. Tapi keduanya tau, mulai malam itu, jarak tak lagi bisa di hindari.
Hari ini, tepat dua minggu setelah percakapan malam itu. Setiap sore, mereka masih berjalan di jalan yang sama. Lentera berjalan dengan langkah pelannya, menikmati keindahan sore di kota yang dulu ia impikan, Bandung. Sedangkan di ujung jalan, Raka duduk di bangku sembari membaca buku yang selalu ia bawa kemanapun itu. Tak ada sapa, tak ada tatap. Hanya dua bayangan yang bergerak berlawanan arah dibawah cahaya yang sama. Namun di dalam kepala mereka, percakapan belum selesai.
Lentera POV
Aku masih melewati tempat itu setiap hari, Rak. Kadang aku berharap nanti kamu akan menoleh kearah ku, menatapku seperti dulu. Tapi kita berdua sudah sepakat kan? menjaga jarak bukan karena benci, tapi karena sadar ada hal-hal yang lebih besar dari perasaan. Ibadah Minggu mu, tak bisa di satukan dengan Sholat lima waktu ku.
Aku selalu takut untuk memulai bicara lagi, semua tembok yang susah payah kubangun bisa dengan cepat runtuh hanya karna sapaan mu. Jadi aku memilih diam. Diam yang sakit, tapi jujur.
Mungkin ini cara kita mencintai tanpa luka yang panjang. Mungkin dengan tak saling sapa, kita justru menjaga yang tersisa.
Raka POV
Lentera, aku masih datang lebih awal hanya untuk melihatmu lewat. Aku pura-pura sibuk baca buku, main ponsel, tapi setiap kali bayanganmu lewat di bawah lampu itu, aku ingin sekali memanggil nama mu. Namun kata-kata selalu tertahan di tenggorokan.
Aku paham sekarang. Kedekatan kita dulu, bukanlah kesalahan. Tapi juga bukan sesuatu yang bisa di pertahankan. Kita terlalu mirip dalam cara menahan, sama-sama takut kehilangan, tapi tak berani memperjuangkan. Aku ga mungkin meninggalkan Tuhan ku, begitupun kamu. Mungkin ini memang takdir, dua garis sejajar yang hanya bisa berjalan berdekatan tanpa bersentuhan.
Malam itu, hujan kembali turun. Lentera mempercepat langkahnya, sementara Raka berdiri dan berjalan di belajang Lentera, tentu dengan jarak yang cukup jauh. Ia menatap punggung Lentera yang perlahan menjauh, lalu berbisik,
“Semoga kamu tau, aku masih disini. Dibawah lampu jalan yang sama, menjaga jalan mu agar kamu tetap aman”
Lentera merasakan kehadiran Raka malam itu, namun ia tak menoleh, Lentera menutup payung yang ia gunakan, membiarkan hujan membasahi bahunya. Di dalam hatinya, ia mengetahui jika Raka tak mungkin menggunakan payung. Tanpa suara, Lentera menyusuri jalan dengan hujan yang membasahi mereka, sama halnya seperti yang dilakukan dulu.
Dan malam itu, dua langkah berjalan menjauh dari bawah lampu jalan yang sama, di persimpangan jalan mereka harus berpisah untuk sampai di tujuan masing-masing, menjaga jarak di antara kenangan yang tak pernah padam.
Tulisandea___

Komentar
Posting Komentar