Catatan dari Negeri yang Dipaksa Bahagia
Barangkali marah sudah tak lagi memadai untuk menampung riuh negeri ini. Sebab para elit telah lama berbicara tanpa berpikir, bertindak tanpa nurani, dan memutuskan tanpa pernah menoleh ke bawah.
Seekor gajah ditemukan mati, kepalanya hilang. Bukan karena alam kejam, melainkan karena perut serakah yang menganggap gading lebih berharga dari nyawa.
Harimau turun ke pemukiman, bukan sebagai ancaman, melainkan sebagai pengungsi. Rumahnya telah habis dilumat manusia yang menyebut diri beradab.
Seorang anak sepuluh tahun memilih menggantung harapannya sendiri. Ia meninggalkan sepenggal kata “selamat tinggal”. Bukan karena ia tak mencintai hidup, melainkan karena terlalu mencintai ibunya, yang setiap hari harus meminta maaf karena tak mampu bahkan untuk membeli pena dan buku. Di negeri ini pendidikan menjelma kemewahan, bukan lagi hak yang dimiliki setiap anak bangsa.
Ada sistem yang menutup mata, tak lagi membiayai visum bagi korban kekerasan dan pelecehan. Seolah kebenaran bisa dihapus dengan menghapus bukti. Barangkali aturan itu lahir karena pelaku kerap berasal dari mereka yang berseragam pengayom, atau dari silsilah nama besar yang kebal oleh kuasa.
Seorang kakek penjual es gabus dipukuli. Bukan karena bersalah, melainkan karena nalar telah lama ditanggalkan. Ia disudutkan oleh tangan tangan yang seharusnya melindungi, dengan dalih ketertiban, dengan alasan yang tak pernah diuji akal.
Lalu terdengarlah kalimat itu, “negara kita sudah bahagia”. Ucapan yang terasa lahir entah dari mabuk kekuasaan, atau kantuk panjang nurani. Pengkhianatan pun disahkan.
Ketika para elit merangkul zionis, di saat rakyatnya berlutut, berdoa, dan berteriak untuk Palestina. Setelah ribuan cara kami tempuh atas nama kemanusiaan, mereka memilih pelukan hangat kepada pembunuh saudara kami. Uang dihamburkan, bukan untuk menyembuhkan luka, melainkan untuk membenarkan kesesatan. Dan kami rakyatnya diminta mengangguk, menyetujui pikiran yang bahkan tak sudi berpikir.
Kini marah terasa sia sia, karena lelah telah lebih dulu menguasai.
Kami telah membayar perubahan dengan ratusan nyawa, namun peradaban tetap berjalan di tempat, atau bahkan mundur ke jurang yang sama.
Jika negeri ini masih berdiri, bukan karena ia adil, melainkan karena rakyatnya terlalu sabar untuk runtuh. Namun kesabaran bukan tanpa batas. Ia hanya menunggu waktu untuk berubah rupa, dari diam menjadi gelombang, dari tunduk menjadi tuntutan. Sebab sejarah tak pernah lahir dari kenyamanan. Ia ditulis oleh luka, oleh darah yang tak sempat diseka, oleh suara yang terlalu lama dipaksa bisu.
Dan bila hari ini kami memilih bertahan, bukan berarti kami lupa. Kami hanya sedang mengingat dengan lebih tajam. Negeri ini tak kekurangan orang pintar, hanya kehabisan orang jujur. Tak kekurangan aturan, hanya kehilangan keadilan. Tak kekurangan janji, hanya tak pernah kenyang oleh bukti.
Kami belajar dari gajah yang mati tanpa kepala, bahwa rakus selalu datang lebih dulu dari penyesalan. Kami belajar dari harimau yang tersesat, bahwa rumah bisa dirampas atas nama pembangunan. Kami belajar dari anak kecil yang pergi terlalu cepat, bahwa sistem bisa membunuh tanpa senjata. Dan kelak, jika sejarah kembali menagih harga,
jangan heran bila yang berdiri paling depan
adalah mereka yang pernah kau anggap lemah, bodoh, dan tak mengerti apa apa.
Sebab dari merekalah kemarahan belajar bersabar. Dari merekalah perlawanan belajar tumbuh. Dan dari merekalah negeri ini, entah akan runtuh, atau akhirnya sembuh.
Kami tak lagi meminta.
Kami hanya mencatat.
Mencatat siapa yang tersenyum di atas penderitaan.
Mencatat siapa yang diam ketika kebenaran diseret ke pengadilan sunyi.
Mencatat siapa yang berbicara tentang moral, namun hidup dari pengkhianatan.
Sebab ingatan rakyat tak pernah benar benar mati.
Ia hanya dipaksa menunggu.
Dan ketika ia bangkit, ia tak datang dengan bunga, melainkan dengan pertanyaan yang tak bisa lagi dihindari. Jangan salahkan kami jika suatu hari kepercayaan tak lagi tersisa.
Jika bendera tak lagi berarti rumah, jika lagu kebangsaan terdengar seperti ratapan, jika hukum hanya dianggap cerita sebelum tidur. Kami tumbuh di antara berita duka dan janji kosong.
Belajar dewasa lebih cepat dari seharusnya. Belajar bahwa benar dan salah sering kalah oleh kuat dan berkuasa. Namun percayalah, bahkan di negeri yang paling gelap, api kecil tetap menyala. Di dada ibu yang tetap menyekolahkan anaknya dengan air mata. Di tangan kakek yang tetap menjajakan dagangan meski tubuhnya remuk. Di suara suara yang terus menulis, meski tahu risikonya sunyi. Dan jika kelak perubahan benar benar datang, ia tak akan meminta izin pada elit.
Ia akan lahir dari lorong sempit, dari meja makan yang nyaris kosong, dari amarah yang akhirnya menemukan arah.
Sampai hari itu tiba, kami akan terus menulis. Karena ketika semua dibungkam, kata kata adalah bentuk perlawanan paling jujur.
Dari kami, generasi bangsa yang sayang Indonesia
Komentar
Posting Komentar