Selamat Idul Fitri Tanpa Kamu, Lagi
Di antara riuh rumah yang tak pernah benar-benar sepi, ada satu sudut yang sejak tahun 2020 tak lagi sama tempat di mana dulu aku menitipkan keluh kesah, tanpa takut dihakimi, tanpa ragu untuk dimengerti. Untuk kamu, yang dahulu menjadi pelabuhan paling tenang. Tuhan telah memanggilmu pulang, dan waktu terus berjalan seperti biasa orang-orang bilang, luka akan sembuh seiring berlalunya hari. Tapi maaf, jika aku masih tersesat di antara kata ikhlas yang terasa begitu asing. Ternyata, merelakan bukan sekadar melepaskan, melainkan belajar hidup dengan kekosongan yang tak pernah kita pilih.
Dulu, masalahku hanya setetes kecil, sederhana, dan selalu menemukan muara padamu. Kini, ia menjelma menjadi lautan. Menggunung, mengendap, menunggu sembuh dengan caranya sendiri. Namun aku bingung… kepada siapa lagi harus kuceritakan semuanya, jika tempatku pulang telah lebih dulu pergi?
Rumah ini masih ramai, suara tawa masih sesekali terdengar, langkah kaki tetap bersahutan. Tapi entah kenapa, semuanya terasa kurang. Harusnya lebih ramai… lebih hidup… jika kamu masih di sini.
Aku sering berpikir, jika kamu masih tinggal di bumi ini, tak akan ada satu pun panggilan darimu yang berani kuabaikan. Karena hanya kamu, yang paling rajin merindu. Yang paling sering memastikan semua orang di rumah baik-baik saja, bahkan ketika dirimu sendiri lelah.
Maaf, butuh waktu empat tahun bagiku untuk mulai berdamai dengan kepergianmu. Empat tahun untuk menerima bahwa ocehanmu kini hanya bisa kuputar ulang di ingatan. Empat tahun untuk mengerti bahwa tempatmu kini bukan lagi di sini bukan di rumah yang selalu kamu rindukan.
Rumah ini kini berantakan dengan caranya sendiri. Anak-anak perempuan memilih menjauh, seakan menjaga jarak dari kenangan yang terlalu dekat. Dan ibumu… masih sering menyebut namamu, seolah kamu hanya sedang pergi sebentar.
Marah masih ada. Entah pada takdir, pada waktu, atau mungkin pada diriku sendiri. Mengapa kamu yang paling kupercaya untuk menampung ribuan cerita ini justru menjadi yang paling jauh dari jangkauan?
Aku bahkan membenci pukul sepuluh malam. Jam itu tak lagi sekadar angka. Ia menjelma menjadi kenangan tentang ketukan keras di jendela, tentang kabar yang tak pernah siap kudengar bahwa Tuhan telah meminta kamu kembali. Dan lebih menyakitkan lagi, aku menjadi yang terakhir tahu. Terakhir mengerti bahwa sejak saat itu, hidupku tak akan pernah benar-benar sama. Lihatlah, bahkan saat aku menulis ini, air mata masih jatuh tanpa permisi. Tapi tenang saja… aku sedang belajar. Pelan-pelan. Seadanya. Belajar merelakan tempatku bercerita, meski hingga kini, aku belum menemukan penggantinya.
Dari aku keponakanmu yang paling usil.
Yang dulu selalu kau marahi karena teriak-teriak setiap kali dikejar kucing. Yang selalu membuatmu geleng-geleng kepala, tapi diam-diam kau lindungi juga. Sekarang, aku mulai berani melawan rasa takut itu. Bukan karena aku sudah kuat… tapi karena aku tahu, tak ada lagi yang akan menolongku seperti dulu. Orang orang hanya akan tertawa, bilang aku berlebihan.
Untuk Mas "V" yang lebih dulu tinggal di sana dan memberikan gelar anak pertama pada ku.
Sampaikan padanya, aku menitipkan rindu. Juga titip pesan untuk wanita baik hati yang sedikit galak itu jangan lupakan aku, keponakan paling usil yang pernah ia punya mungkin tak ada yang paling usil memancing amarahmu, meski berakhir dengan ajakan sederhana entah makan atau pergi keluar. Namun rupanya, rindu tak pernah benar-benar selesai. Ia tidak pergi bersama waktu, tidak pula luruh bersama air mata. Ia hanya berubah bentuk menjadi lebih sunyi, lebih dalam, dan lebih sering datang tanpa permisi. Kadang hadir di sela tawa, kadang menyelinap di antara diam yang terlalu panjang. Aku mulai mengenalmu dengan cara yang berbeda sekarang. Bukan lagi lewat suara, bukan lewat candaan, bukan lewat omelan yang dulu sering kuanggap berisik. Tapi lewat kenangan-kenangan kecil yang tiba-tiba terasa begitu berharga.
Seperti cara kamu memanggil namaku.
Seperti caramu mengkhawatirkan hal-hal sederhana.
Seperti kebiasaanmu yang dulu terasa biasa saja, tapi kini menjadi hal yang paling kurindukan.
Lucu ya… manusia memang sering terlambat menyadari. Aku juga mulai mengerti, mungkin kehilangan bukan tentang melupakan. Tapi tentang bagaimana kita tetap melanjutkan hidup, sambil membawa seseorang di dalam hati tanpa pernah benar-benar melepaskannya.
Kini, setiap kali hidup terasa terlalu berat, aku mencoba berbicara denganmu… dalam diam. Bukan karena aku yakin kamu bisa mendengar, tapi karena hanya dengan itu, aku merasa tidak sepenuhnya sendiri.
Dan entah kenapa, ada rasa tenang yang perlahan datang. Seolah kamu benar-benar ada… hanya saja tak lagi terlihat.
Aku belajar menata ulang hidup tanpa kehadiranmu. Belajar menerima bahwa tidak semua luka harus sembuh untuk bisa tetap berjalan. Dan belajar bahwa rindu tidak selalu harus dituntaskan. Kadang, cukup dipeluk saja. Jika di sana kamu bisa melihat kami, aku harap kamu tahu kami masih berusaha. Meski tertatih, meski sering kali jatuh, kami masih mencoba menjaga apa yang dulu kamu rawat dengan penuh cinta: rumah ini, kebersamaan ini, dan kenangan tentangmu.
Dan aku…
Aku akan terus menulis tentangmu, dalam doa-doa yang tak bersuara, dalam kalimat-kalimat yang mungkin tak pernah sempurna.
Karena dengan itu, aku merasa kamu masih hidup di antara kata, di antara ingatan, di antara bagian kecil dari diriku yang tak pernah ingin kehilanganmu.
Jadi, jika suatu hari nanti aku benar-benar bisa tersenyum tanpa rasa sesak saat menyebut namamu, itu bukan berarti aku telah melupakanmu. Itu berarti… aku akhirnya belajar mencintaimu dengan cara yang baru.
Dan untukmu…
Selamat Hari Raya Idul Fitri yang keenam tanpa kehadiranmu di rumah ini.
Maaf, jika hingga hari ini, aku masih sering mencari-cari kamu di setiap sudut, di setiap suara, di setiap doa yang diam-diam kupanjatkan.
Karena sejauh apapun waktu berjalan,
bagiku… kamu tetap rumah yang tak tergantikan.
Komentar
Posting Komentar