Postingan

Di Persinggahan Terakhir 2025: Tentang Tumbuh, Bertahan, dan Berani Melangkah

  Tanpa tanda peringatan, tanpa hitungan mundur yang benar-benar kita sadari, ternyata kita sudah berada di persinggahan terakhir tahun 2025. Waktu bekerja dengan caranya sendiri yang diam-diam berjalan, lalu tiba-tiba berhenti sejenak, seolah memberi kesempatan bagi kita untuk menoleh ke belakang. Di titik ini, aku belajar bahwa akhir tahun bukan hanya tentang pergantian angka, melainkan tentang keberanian untuk jujur pada diri sendiri: tentang apa saja yang telah kita lewati, dan apa yang diam-diam mengubah kita. Tahun 2025 adalah tahun yang penuh rasa. Ada hari-hari yang diisi tawa ringan tanpa alasan yang jelas, ada pula malam-malam panjang yang terasa sunyi meski dikelilingi banyak orang. Senang, sedih, kecewa, dan lelah hadir silih berganti, mengajarkanku bahwa hidup tidak pernah berjalan lurus. Ia berbelok, tersendat, bahkan kadang memaksa kita berhenti di tengah jalan hanya untuk memahami satu hal penting: bahwa semua rasa layak dirasakan. Aku berterima kasih pada 2025 kare...

Ketika Cerah Tak Lagi Punya Nama

Tanah yang sejak kecil kupijak kini mulai memperlihatkan amarahnya. Air yang dulu setia menghilangkan dahagaku kini seakan ingin meneguk diriku kembali. Bahkan pohon-pohon yang pernah kupanjat untuk menatap negeri dari ketinggian ikut datang bersama tanah dan air, seolah menghadirkan kembali sesuatu yang selama ini kuanggap telah terkubur. Dan di tengah gelombang ingatan itu, aku mulai bertanya: masa depan seperti apa yang selalu mereka sebut cerah? Sebab ketika melihat ke belakang, aku ingat bagaimana segalanya pernah begitu sederhana. Dulu, aku mengeruk tanah hanya untuk membangun benteng rumah-rumahan, menyalakan imajinasi di atas segumpal debu. Air kubuang sembarangan sebagai peluru pistol mainan atau kuminum tanpa pernah memahami nilainya. Pohon-pohon kupanjat demi daun, buah, atau sekadar rasa bangga, bahkan ketika ranting-ranting kecilnya patah oleh tanganku. Jika diukur dari masa itu, bukankah yang kuambil hanyalah segenggam tangan kecil? Namun kini amarah alam seolah membebank...

Cerpen- Dibawah Lampu Jalan Yang Sama

Gambar
Hujan baru saja berhenti, memberikan waktu pada setiap insan yang ingin beraktifitas. Sisa gerimis menetes dari dedaunan, memantul di aspal yang telah basah, menyapa setiap makhluk yang sedari tadi menunggunya reda. Dibawah lampu jalan yang kuning redup, Lentera menghentikan langkahnya. Ia menatap genangan air yang memantulkan cahaya lembut, cahaya yang dulunya menjadi bingkai sebuah cerita dalam diam. Mereka tidak pernah memiliki hubungan khusus, mereka hanya dua orang yang saling menemukan kenyamanan di tengah kesibukan sehari-hari. Obrolan ringan tentang hujan, kopi, atau lagu favorit, kini berubah menjadi rutinitas yang tak pernah ada di daftar rencana mereka. Sesuatu tumbuh, tapi mereka tak lagi berani menamai.  Sampai malam itu datang, malam yang mengubah sekala cerita cinta. beberapa minggu sebelumnya, Lentera menunggu di halte kecil yang letaknya di pinggir jalan. Kemudian ia mendengar langkah kaki yang sedikit berlari ke arahnya, ia Raka. Raka datang dengan rambut setenga...

Ketika di Setiap Tahunnya, Jin Dasim Menemukan Rumah Baru

Gambar
Setiap tahun, selalu ada rumah yang berubah menjadi medan perang kecil. Suara-suara yang dulunya hangat, kini menjadi bara api yang mampu menghanguskan rasa nyaman dalam rumah. Jin Dasim, katanya tersenyum menemukan rumah barunya lagi. Tapi mungkin, bukan dia yang mencari sebuah “rumah”. Mungkin, kita sendirilah yang memanggilnya datang, membukakan pintu rumah dan mempersilahkan masuk. Lewat amarah yang tak pernah diredakan, lewat gengsi yang terus di junjung tinggi, lewat kebohongan kecil, lewat doa yang perlahan hilang dari meja makan. Semakin lama, rumah mulai sunyi. Ruang tamu yang dulunya penuh tawa, kini hanya tersisa gema langkah yang saling menjauh. Dinding yang dulu menjadi saksi doa bersama, kini mendengar desah amarah yang tak lagi bisa disembunyikan. Piring-piring di meja makan seolah tau, kehangatan yang dulu tersaji kini hanya menjadi kenangan yang dingin. Dan setiap suara pintu yang tertutup terasa seperti perpisahan kecil yang berulang setiap harinya. Barangkali disanal...

Seporsi Mie Ayam Sebelum Mati: Plot Twist Kehidupan yang Tak Disangka

Gambar
Ada satu buku yang berhasil membuat kamu berfikir keras. Ada juga buku yang akan membuat kamu berhenti sejenak, menarik nafas panjang, lalu terdiam. Karena rasanya seperti sedang membaca cerita hidupmu sendiri. Buku Seporsi Mie Ayam Sebelum Mati, karya Brian Khrisna. Tentang mie ayam dan makna hidup yang sederhana. Dalam buku ini ada se orang tokoh utama, dia adalah Ale. Dia bukanlah sosok yang sempurna, layaknya cerita novel pada umumnya. Ia tinggi besar, berat badannya tergolong di atas rata-rata, dia kerap menjadi bahan olokan dari teman temannya, dia tak benar-benar memiliki seseorang untuk di ajak berbagi cerita. Semua orang di kantor tempat ia bekerja, memilih untuk menjaga jarak padanya akibat bau badan yang katanya mengganggu. Hal ini bukan berarti Ale tidak berusaha, sudah banyak parfum dengan harga yang paling murah hingga paling mahal sudah ia coba, tapi bagaimana lagi? postur tubuh gemuk akan mengeluarkan aroma tubuh yang tidak enak ketika sudah berkeringat. Dan lama-lama, ...

Belajar Menerima Hari Yang Tak Selalu Sesuai Dengan Ekspektasi

Gambar
Tidak semua hari akan selalu datang dengan membawa cahaya. Ada pagi yang terasa sangat berat bahkan sebelum mata benar-benar terbuka, ada siang yang menyesakkan dada meskipun tak ada alasan yang cukup jelas, dan ada malam yang hanya ingin dilalui dalam diam, tanpa kata, tanpa senyum. Namun, bukankah hidup memang sepantasnya begitu? hidup tidak selalu harus indah untuk tetap layak dijalani. ada kalanya kita bertemu dengan hari-hari yang tidak berjalan sesuai rencana, dan dari situlah kita perlahan belajar mengenai kesempurnaan tidak pernah menjadi syarat untuk tetap bahagia. Terkadang, pikiran manusia selalu menuntut segalanya harus sesuai dengan rencana. Padahal kita hanya perlu berhenti menuntut segalanya harus berjalan baik. Berhenti memaksakan diri untuk kuat setiap waktu. Karena tidak masalah jika hari ini kamu merasa lelah, kecewa, atau kehilangan arah. Tidak apa jika hari ini kamu banyak melakukan kesalahan, itu bukan tanda bahwa kamu gagal, tapi itu adalah tanda jika kamu masih ...